Wednesday, July 25, 2012

Tentukan Pilihan !

credit
Beberapa waktu yang lalu sampeyan tentunya telah mendengar hiruk pikuk warga Jakarta saat menggelar pesta demokrasi lima tahunan untuk memilih pemimpin mereka. Pilkada DKI Jakarta memang terasa lebih menyedot perhatian masyarakat jika dibandingkan dengan pemilihan kepala daerah di tempat lain. Hal ini wajar karena selain sebagai pusat pemerintahan, Jakarta juga merupakan pusat bisnis dan keuangan, jadi apapun kebijakan yang diambil pemimipin Jakarta tentunya akan berdampak langsung terhadap banyak pihak , jadi ndak terlalu mengherankan jika berita tentang Pilkada DKI ini menjadi berita utama di  berbagai media tanah air.

Ada beberapa hal yang menarik perhatian saya saat perhelatan Pilkada DKI Jakarta kemarin, selain karena ada pasangan cagub-cawagub yang berasal dari luar daerah dan “mengadu nasib” di Jakarta, hasil perolehan suara pada putaran pertama kemarin pun diluar perkiraan para pengamat dan beberapa lembaga survey.  Seperti yang telah diberitakan di banyak media sebelumnya bahwa pasangan incumbent Foke-Nara digadang-gadang akan unggul dalam pilkada kali ini, namun nyatanya jumlah perolehan suara mereka masih dibawah perolehan suara pasangan Jokowi-Ahok yang berhasil menduduki peringkat teratas dalam  putaran pertama kemarin. Dengan hasil survei yang bertolak belakang dengan kenyataan inilah maka ndak heran jika banyak masyarakat yang berkomentar miring dan mempertanyakan integritas para lembaga survei itu. (berita selengkapnya bisa sampeyan baca disini).

“Hahaha kalo saya sih ndak kaget mas kalo ternyata hasil survei para lembaga survey itu ndak cocok dengan kenyataannya, lha gimana mau netral? wong yang biayain survei mereka itu adalah salah satu calon, tentunya sedikit banyak pasti akan ada konflik kepentingan disana, akibatnya hasil surveinya memang sengaja dibuat untuk menggiring opini publik ke calon tertentu” komentar Kang Bejo saat duduk santai menikmati jam istirahat kami.

“Hehe masa sih Kang, survei itu kan tentunya ndak bisa sembarangan kang, dalam mempublikasikan hasil surveinya, tentunya mereka juga menyampaikan juga metodologi penelitian yang mereka gunakan, lagipula sekarang kan jamannya udah transparan, publik bisa mengeceknya kebenaran datanya lho kang, jadi sepertinya mereka harus berpikir ulang kalo mau melakukan hal-hal negatif seperti itu Kang “ balas saya

“Lah nyatanya beda gitu kok antara hasil survei dan hasil perolehan suara sebenarnya, makanya saya itu dari awal ndak pernah percaya sama survei-survei politik kayak gitu mas, karena saya yakin lembaga – lembaga survei itu bekerja berdasarkan pesanan, bukan berdasarkan kenyataan yang sebenarnya dilapangan” jawab Kang Bejo ketus

Hehe gitu ya, tapi saya punya pandangan tersendiri kenapa hasil survei kemarin bisa beda Kang” jawab saya

“Emang menurut sampeyan gimana mas?”tanya Kang Bejo penasaran

“Kalo menurut saya, kemenangan pasangan Jokowi-Ahok pada putaran pertama kemarin ya karena itu buah kerja keras mereka sendiri Kang, mereka berhasil menjalankan strategi kampanyenya dan sukses membuat masyarakat bersimpati dan akhirnya memilih mereka” jawab saya

“Ah sampeyan ini gimana sih mas, wong kita itu ngomongin survei, kok sampeyan malah ngomongin kubu Jokowi-Ahok” jawab Kang Bejo nyinyir

“Sabar dulu, biar saya jelasin dulu, maksud saya begini, survei-survei  itu kan umumnya dilakukan 2-3 minggu sebelum hari pencoblosan, survei yang dilakukan Jaringan Survei Indonesia (JSI) misalnya, saya baca di berita itu itu mereka melakukan pengumpulan data survei itu diantara tanggal 28 Juni-2 Juli 2012” jawab saya (berita selengkapnya bisa sampeyan baca disini)

“Iya, terus?” tanya Kang Bejo lagi

“Nah karena survei dilakukan tanggal 28 Juni – 2 Juli, maka tentu saja hasil survei yang dipublikasikan itu adalah kondisi pilihan masyarakat pada saat mereka di survei itu Kang, bukan pada saat hari pencoblosan. Mudeng ndak?” terang saya lagi

“Oke, terus?” tanya Kang Bejo

“Nah mungkin saja pada saat disurvei itu banyak dari mereka yang menjawab akan memilih Foke, namun pada saat pencoblosan ternyata mereka berubah pikiran dan memilih Jokowi.” jelas saya lagi

“Lha apa mungkin mas orang bisa berubah mas?” tanya Kang Bejo

“Ya mungkin aja lah Kang, bagi orang-orang yang belum menentukan pilihan, berubah pilihan itu hal yang sangat mungkin sekali terjadi, bisa jadi mereka tertarik pada sosok Jokowi yang memang terkesan sederhana dan santun saat muncul di media, tapi bagi orang yang sudah  fanatik memilih Foke sih ya bakalan susah merubah pilihan mereka” jawab saya

“Jadi menurut sampeyan hasil survei kemarin itu ndak salah?hanya waktu surveinya saja yang terlalu jauh dengan hari pencoblosan?” tanya Kang Bejo

“Iya Kang, karena jangka waktu yang terlalu jauh itu ternyata banyak pilihan warga Jakarta yang berubah, seandainya surveinya dilakukan sehari sebelum atau pas di hari pencoblosan, saya yakin hasilnya ndak akan terlalu jauh berbeda” jawab saya     

Ndak dapat dipungkiri bahwa kemenangan pasangan Jokowi –Ahok dalam putaran pertama kemarin karena keberhasilannya menarik perhatian warga Jakarta dengan mencitrakan dirinya sebagai tokoh yang sederhana, santun dan merakyat. Bisa saja warga Jakarta membanding-bandingkan Jokowi dengan profil para pejabat di negeri ini yang umumnya dianggap arogan dan sewenang-wenang terhadap rakyatnya. Selain itu Jokowi juga punya ciri khas tersendiri, jika para calon lain sering menarik simpati warga dengan menggunakan atribut budaya betawi dalam kampanyenya, Jokowi malah menggunakan baju kotak-kotak yang katanya dibeli dari pasar Tanah Abang sebagai “kostum” kebanggaannya.  

Sebelum datang “mengadu nasib” di Jakarta, Jokowi sebenarnya masih aktif sebagai walikota Solo. Bagi warga solo beliau memang dikenal sebagai walikota yang sangat perhatian kepada warganya, beliau ndak segan untuk datang mengunjungi masyarakat kelas bawah untuk sekedar menampung keluh dan kesah mereka, jadi ndak heran jika pada saat pilkada di Solo, Jokowi mendapatkan dukungan lebih dari 90% warganya. Prestasi akan keberhasilan beliau sebagai walikota Solo pun diakui dunia dengan dinominasikannya beliau dalam acara pemilihan "Wali Kota Terbaik di Dunia" Tahun 2012 yang diselenggarakan oleh The City Mayor Foundation.(Bukti atas masuknya beliau sebagai salah satu nominasi  ini bisa sampeyan lihat disini).

Bagaimana dengan pasangan incumbent Foke-Nara?Meskipun mereka diunggulkan dalam berbagai survei sebelumnya, namun nyatanya pasangan ini hanya menempati posisi kedua setelah pasangan Jokowi-Ahok. Sebagai orang yang telah menjadi gubernur dan wakil gubernur DKI pada beberapa periode sebelumnya, beliau dianggap telah paham betul dengan kondisi Jakarta sehingga berhasil memajukan Jakarta di berbagai bidang, mulai dari bidang pendidikan, pembangunan,transportasi sampai masalah banjir (Bagi sampeyan pingin tahu secara detail apa aja prestasinya, sampeyan bisa baca selengkapnya disini).

Tapi sebenarnya mudah saja untuk menentukan berhasil atau tidaknya kepemimpinan beliau pada periode sebelumnya, tinggal bandingkan saja antara janji saat mereka berkampanye dulu dengan kondisi nyata saat ini. Meskipun mereka mengklaim telah berhasil dalam berbagai bidang, namun nampaknya keberhasilan itu kurang berdampak langsung terhadap masyarakat Jakarta, masih banyak masyarakat Jakarta yang beranggapan bahwa Jakarta masih sama dan ndak ada perubahan signifikan selama beliau pimpin. Hasilnya terlihat saat pemilihan pertama kemarin, banyak dari warga Jakarta yang menginginkan perubahan dan ndak memilih beliau lagi. Meskipun begitu pasangan Foke-Nara masih berpeluang untuk kembali memimpin Jakarta dengan bertarung dengan pasangan Jokowi-Ahok pada pilkada putaran kedua nanti. Bagaimana ramainya pertarungan perebutan kursi DKI pada putaran kedua nanti? apakah Jakarta akan memiliki pemimpin baru?atau justru akan kembali di pimpin oleh Foke? kita tunggu saja tanggal mainnya. Jika sampeyan warga Jakarta dan mempunyai hak pilih, maka jangan ragu untuk ikut berpartisipasi dan memilih gubernur pilihan sampeyan.

credit
Selain kemenangan Jokowi dan Foke, ada hal menarik yang menjadi perhatian saya dari para pasangan cagub -cawagub yang bertarung dalam Pilkada DKI kemarin, yaitu majunya pasangan Faisal Basri-Biem Benyamin dan Hendardji Soepandji- Ahmad Riza Patria sebagai pasangan cagub-cawagub independen. Meskipun saya ndak pernah meragukan kejujuran dan integritas mereka, namun dari awal saya memutuskan untuk ndak memilih mereka, bukan karena saya meragukan  kemampuan mereka, namun sistem politik di negeri kita ini yang menurut saya akan menjadi penghalang mereka untuk bekerja dengan maksimal meskipun nantinya mereka menang dan terpilih menjadi pemimpin Jakarta.

“Emang ada masalah apa dengan calon independen mas? Bukannya kalo calon independen itu justru akan lebih tegas dan lebih leluasa mengambil keputusan, mereka kan ndak punya konflik kepentingan dengan partai-partai politik yang mengusung mereka ”tanya Kang Bejo kepada saya

“Idealnya memang seperti itu Kang, tapi kan sistem poliik di Indonesia ini unik, meskipun presiden atau kepala daerah di pilih langsung oleh rakyat, namun nyatanya setiap keputusan strategis harus mendapat persetujuan dari DPR atau DPRD yang katanya merupakan representasi dari rakyat yang memilih mereka.  Nyatanya sistem politik di negara kita ini memberikan wewenang yang besar kepada DPR/DPRD yg notabene adalah kader-kader partai politik” jawab saya

Ya asalkan keputusan itu baik tentunya didukung lah mas, masa DPR ndak setuju sih kalo memang itu baik buat kepentingan negara, emang ada gitu kebijakan pemerintah yang ndak didukung DPR?” tanya Kang Bejo

Nggak usah jauh-jauh, contohnya yang baru-baru terjadi ini aja deh, meskipun pemerintah telah setuju untuk membangun gedung baru untuk KPK, tapi nyatanya DPR ndak setuju meskipun banyak masyarakat yang juga mendukung. Kebijakan pemerintah dalam penanganan krisis global  tahun 2008 juga dipermasalahkan anggota DPR saat itu, padahal saat itu Indonesia berhasil terhindar dari ancaman krisis dengan meminimalisir imbas krisis yang terjadi” jawab saya

Tapi bukankah DPR/DPRD itu memang menjalankan fungsi pengawasan kepada pemerintah mas?” jawab Kang Bejo

“Seharusnya memang seperti itu, tapi nyatanya mereka itu ndak murni memperjuangkan kepentingan rakyat Kang,  mereka hanya mendukung jika keputusan itu dianggap menguntungkan partai mereka. Koar-koarnya aja mengatasnamakan rakyat, padahal mah semua itu hanya omong kosong semua” jawab saya

Seperti yang terjadi sekarang ini lah, meskipun presiden didukung oleh partai pemenang pemilu, nyatanya banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang terus dipermasalahkan oleh DPR. Gimana kalo presiden atau kepala daerah dari jalur independen, wah bisa-bisa ndak jalan tuh Kang semua program-program yang direncanakan” lanjut saya

Owh gitu, pastinya bisa babak belur ya dijegal terus ama DPR nya, sama aja boong dong kalo ndak bisa kerja. Terus menurut sampeyan gimana mas biar sistem politik dan pemerintahan kita ini bisa berjalan efektif?tanya Kang Bejo

Dengan sistem presidensial yang dianut Indoensia, pemerintahan bisa efektif jika ada partai yang dominan atau memperoleh memperoleh 50% lebih suara di DPR. Selain itu presiden maupun gubernurnya terpilih juga berasal dari partai yang sama, jadi apapun kebijakan presiden ataupun gubernur sebagai kepala pemerintahan, DPR/DPRD akan selalu mendukung, karena mereka dominan dan dari partai yang sama  jelas saya

“Wah susah kalo bisa seperti itu, sampeyan kan tau sendiri kalo Indonesia menganut sistem multipartai, apalagi kalau mau pemilu , pasti akan muncul partai-partai baru. Jadi menurut sampeyan enaknya gimana mas?” Tanya Kang Bejo

Pertanyaan Kang Bejo mengingatkan saya kepada Tanaya, salah satu teman blogger saya yang beberapa waktu yang lalu memberikan beberapa pertanyaan kepada saya.  Seandainya saya menjadi pejabat di negeri ini, maka jabatan apa yang akan saya pilih?mau jadi menteri, presiden, anggota DPR atau jabatan lainnya? Jika melihat kondisi negara yang sering ribut-ribut seperti sekarang ini, maka menurut saya presiden sebagai kepala negara ndak cocok buat Indonesia, idealnya adalah pemerintahan yang dipegang oleh seorang raja/ratu. Kenapa?karena saya pikir kekuasaan yang dipegang oleh satu tangan itu akan menjadi lebih efektif untuk menciptakan suatu stabilitas dalam proses pembuatan kebijakan, ndak akan ada perdebatan yang terlalu bertele-tele sehingga suatu kebijakan itu bisa segera di laksanakan. Arab Saudi misalnya, raja disana merupakan kepala negara sekaligus kepala pemerintahan, maka ndak heran jika disana ndak ada partai politik, ndak ada koalisi maupun oposisi sehingga kondisi negara menjadi relatif stabil dan ndak ada gejolak berarti.
credit
Selain itu Tanaya juga menanyakan seandainya saya bisa menjadi seorang tokoh dalam sebuah mitos, maka saya pingin jadi karakter seperti siapa? Dengan kondisi yang seperti ini, sepertinya Indonesia masih mendambakan sosok “Ratu Adil atau Satria Piningit” seperti yang disebutkan dalam mitos masyarakat jawa. Menurut Mas El Jefrey, Ratu Adil merupakan sosok pemimpin yang memiliki segala sifat ideal seorang pemimpin, keadilan dan kebijaksanaanya bisa diterima semua kalangan, rakyat maupun para pembesar semuanya dengan lapang dada menerima segala keputusan dan tunduk terhadap segala perintahnya. Dia juga diyakini akan membawa negara ini menjadi negara yang subur makmur, aman, tentram dan sejahtera. Sosok Ratu Adil inilah yang diyakini masyarakat jawa sebagai presiden yang akan memimpin Indonesia di masa yang akan datang. Akankah Jokowi atau Foke termasuk calon ratu adil yang ikut bertarung di pemilihan presiden 2014 mendatang?kita tunggu saja, biarkan waktu yang menjawabnya :D

“Saya sebenarnya mau juga mas kalau jadi Gubernur DKI” kata Kang Bejo

“Weleh weleh..pede banget sampeyan iki Kang, mbok ya ngaca dulu..emang sampeyan kira gampang apa nyalonin jadi gubernur gitu. Punya modal apa kok berani beraninya pengen jadi gubernur?” tanya saya penasaran

“Wah sampeyan ini ngeremehin saya, jelek-jelek gini saya juga punya modal mas?” kata Kang Bejo

“Modal apa emangnya?” tanya saya penasaran

“Modal dengkul” jawab Kang Bejo sambil meringis :D

Jiaahhhhhhh…..sampe dengkul sampeyan mlocot juga ndak bakalan jadi gubernur Kang :D

29 comments:

  1. Two thumbs up!

    Jadi ngeh survei-survei itu gimana caranya dan baru terbuka nih pikiran betapa gak merakyatnya DPR. Aku juga berharap Jakarta berubah ke yang lebih baik, karena Jakarta itu indikasi Indonesia kedepannya. Klo Jakarta beres dengan pemimpin yang baru, tentu terbuka peluang Indonesia bakalan lebih baik juga ^_^ ya gak?

    Mdh2an kedepannya kita punya presiden yang bonafit ya mas! Udah geregetan liat negara kita jalan ditempat terus (atau malah mundur yah?)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin..saya juga berharap seperti demikian mbak, untuk jadi pemimpin Jakarta harus benar-benar orang yang berani dan "nekad", karena memang permasalahan yang dihadapi kota jakarta memang lebih kompleks jika dibandingkan daerah lain. Sapa tau ntar si little bee bisa jadi gubernur jakarta di masa yang akan datang hehehe aminnn :)

      Delete
  2. Bener juga ya... makanya di tivi dulu itu ada pengamat politik yg mengatakan kalau calon independen itu sangat snagat amat susah untuk bisa menang. Bukan krn ndak bagus, tp krn byk faktor yg mendasarinya. Trnyta klop dg postingan ini. *kalau saya ga milih, Mas.hehe.. kan bukan org DKI :)

    ReplyDelete
  3. Pokoke siapapun gubernurnya, aku berharap Jakarta bisa berkurang macetnya, berkurang banjirnya, makin diperbaiki fasilitas umumnya, makin diperbanyak area hijaunya, jangan memperbanyak mall2.
    Aku suka ama pak jokowi, soalnya selera busananya mirip aku, suka kemeja kotak2.. hehehe.. Tapi sayang aku ga bakal milih dia, wong aku bukan warga jakarta. Numpang mencari nafkah doank.. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. semua warga Jakarta tentunya berharap demikian mbak, berharap Jakarta jadi tempat yang lebih nyaman untuk ditinggali :). Ntar kalo Kang Bejo nyalonin jadi Gubernur, Mbak Cova jadi tim suksesnya aja ya :D

      Delete
  4. sependapat soal sistem pemerintahan, multi partai yg ada malah ajang 'bisnis'. Jadi pas genderang pemilu mau ditabuh..muncul tuh banyak parpol sampai bingung pas mau nyoblos...gak hanya bingung pilih parpol yg mana tapi juga bingung buka kertas coblosannya...berlipat-lipat.

    Belum lagi dari segi pembiayaan yg berkali lipat-lipat, apalagi jika sampai terjadi putaran kedua atau ketiga...berapa alokasi dana yg harus disediakan utk 1musim pemilu jika demikian...#mikir

    ReplyDelete
    Replies
    1. Apa perlu kita usulin agar partai di pemilu nanti hanya 3 partai saja seperti jaman pak harto aja dulu mbak?hehehe

      Delete
  5. hadeuuhh..panjang juga tulisannya yak..:D
    tapi kemarin aku ga milih foke or jokowi...
    hehehehe...

    semoga saja siapapun yang terpilih akan amanah..amin..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aminn..semoga bisa menjadi pemimpin yang amanah dan bebas korupsi.

      Wah berarti calonnya kemarin kalah dong ya, nanti jangan lupa ikut milih lagi ya mbak tanggal 20 September, demi Jakarta kita tercinta ini :)

      Delete
  6. menurutku juga seperti itu Cak Git..hasil putaran 1 bisa melenceng dr hasil survey krn survey dilakukan selang bbrp hari dr perhelatan akbar pengerokan kumis eh pemilukada DKI hehe...
    hati manusia tiap detik bisa berubah kan...

    ingat...Jakarta bukan hanya milik org Betawi, tp milik semua rakyat Indonesia...setiap rakyat Indonesia yg ber-KTP DKI bisa ikutan nyoblos..jgn sampe ada org Betawi ga boleh nyoblos gara2 ga punya KTP DKI ya :-)
    jd ga perlu deh kampanye dgn menyinggung2 SARA dan menjelek2an calon lain..kampanye cerdas dong, krn warga DKI itu cerdas2 koq...
    kerja lah n berprestasi lah..penilaian n simpati biar rakyat yg ngurus...

    masalah banjir serahin aja sama ahlinya..eett dah, selama ini udah ketemu sama ahlinya blm sih???

    macet..lahan Jkt udah abis..kendaraan tambah banyak...tarif PKB progresif ga bakal mengusik org2 kaya/pejabat2/anggota DPR..krn mereka punya penghasilan lbh buat beli mbl baru apalagi cuma buat byr PKB yg hanya setahun sekali...
    proyek monorel mogok...
    proyek transportasi masal bawah tanah kira2 bikin yg di atas tanah tmbh macet ga yaa..proyek busway aja bikin susah pemakai jalan, saat udah beroperasi aja sepertinya ga terlalu signifikan mengurai kemacetan..mudah2an secepatnya pemerintah bisa memberikan solusi jitu utk mengurai kemacetan Jkt...
    atau seperti isu yg lalu aja, pusat pemerintahan pindahin ke Kalimantan, gw dukung banget komplek MPR/DPR pindahin ke Papua...biar warga DKI ga lagi merasakan manisnya menunggu berjam2 mempersilakan pejabat yg mau sekedar lewat...biar seluruh rakyat Indonesia merasakan pemerataan kemacetan :D

    siapapun pemenang pemilukada DKI nanti, ga ngaruh lgsg ke hidup gw, krn walau gw warga DKI tp udah 1 windu ini gw sehari2 mengais rejeki di luar DKI hehe

    tp gw tetep berharap yg terbaik buat DKI..krn biar gimanapun Jakarta adalah tanah lahir gw :-)

    kita lihat saja hasilnya nanti..semoga yg terbaik buat Jakarta n buat Indonesia

    mari sukseskan pemilukada DKI !

    ReplyDelete
    Replies
    1. Komentarnya mantap bener cak, cocoknya sampeyan bikin tulisan juga tentang Pilkada DKI ini :D

      Saya sangat sependapat dengan mas tentang kampanye dengan membawa isu SARA, karena saya yakin masyarakat Jakarta ndak akan terpengaruh isu untuk memilih jagoan mereka. Aminn..semoga kedepan Jakarta bisa memiliki pemimpin yang terbaik :)

      Delete
  7. Siapapun yang terpilih, semoga DKI jadi lebih baik yah... ^^

    ReplyDelete
  8. yang penting jakarta bisa berubah lebih baik lagi, bosen sama macet banjir dan kawan-kawannya huhuhu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makanya jangan lupa untuk berpartisipasi di pilkada putaran kedua nanti..tapi km udah umur 17 Tahun dan udah punya KTP kan?:D

      Delete
  9. yang kotak saja.. .:)

    lugas sederhana.. :D

    *bukan kampanye, hanya mendukung yang suka dengan band rock! yeah!

    ReplyDelete
  10. Saya kemarin pilih nomer 5 mas,soalnya tegas & independent utama'a alias tidak ada kepentingan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Calon independen ya mas? sayangnya ndak milih mereka dengan alasan yang saya tulis diatas tadi mas :)

      Delete
  11. Terimakasih atas jawabannya, Mas! Jawabannya menarik;) Kalau ingat sosok ratu adil, ingat juga sosok dewi Athena dari mitologi Yunani..

    Posting Mas Seagate emang selalu bagus ya.. padat dengan informasi yang didukung dengan fakta, ditambah opini pribadi yang tidak "ngotot" dan terkesan fanatik.. Saya selalu suka dengan cara Mas menyampaikan sesuatu.
    Saya yang sebenarnya tidak tertarik dengan topik2 seperti ini menjadi terbujuk untuk terus membaca.

    Seperti yang lain, saya mengharapkan yang terbaik untuk Jakarta. Siapapun yang menang, semoga memberikan yang terbaik dan berhasil membawa improvement yang signifikan di Jakarta. Semoga tidak mengecewakan rakyat...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aihh..makasih banyak, jadi tersandung, eh tersanjung :D

      Delete
  12. saya dipilih gantikan angelina jolie mas [hlo!!!!]

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo gitu saya pilih mbak aja deh =))

      Delete
  13. Hahah gag pilih deh, pilih misua ku ajah deh :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo misua ikut nyalonin jadi gubernur, saya ikutan milih juga deh :D

      Delete
  14. semoga gubernur jakarta yang terpilih sesuai dengan pilihan rakyat :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin..tentunya kita semua berharap yang terbaik untuk jakarta :)

      Delete
  15. wah, bagus banget artikelnya, mas. jarang ada media yang membahas mengenai 'kenapa hasil survey bisa beda' itu. tapi kalau saya pribadi masih menganggap bahwa hasil survey-nya dimanipulasi, mas. yah, bisik-bisik orang yang terlibat di badan survey itulah mas. :p

    ReplyDelete